Senin, 30 Maret 2015

@PartaiSocmed : Lingkaran Setan Pertamina dan Kebijakan Tidak Pro Rakyat

@PartaiSocmed: Jika diterapkan seperti usulan kami dulu (harga BBM benar2 fluktuatif ikut mekanisme pasar) memang bagus utk tekan inflasi @edhiepra1

Tapi yg terjadi sekarang kan tdk demikian. Bilangnya ikut harga minyak dunia tapi diumumkan secara berkala. @edhiepra1

Nah, justru faktor "pengumuman pemerintah" inilah yg memicu inflasi. @edhiepra1

Orang Indonesia itu paling enak dikibuli dgn istilah2 populis seperti "subsidi" itu. Seolah2 merasa terbantu dgn cap subsidi

Kita merasa puas mendapat barang dgn cap subsidi meskipun harganya lebih mahal

Seperti puasnya kita berhasil membeli barang yg ditawarkan 100 ribu dgn harga 50 ribu. Padahal harga sesungguhnya cuma 10 ribu

Seharusnya poinnya bukan disitu. Poinnya adalah bagaimana masyarakat mendapatkan harga termurah. Bukan bersubsidi tapi mahal

Itu sebabnya concern kami lebih pada hak yg adil bagi rakyat untuk mendapat harga termurah. Bukan sekedar cap subsidi atau tidak

Jadi kritik kami pada pemerintah adalah pada tidak tidak diberinya kesempatan yg adil bagi rakyat untuk memperoleh harga termurah

Kami lebih mendukung persaingan bebas yg menguntungkan konsumen, dibanding ilusi subsidi yg ujung2nya rakyat tetap harus bayar mahal itu

Agar mudah dipahami kami akan pakai contoh harga SIM card saat awal2 munculnya HP dulu

Dulu kartu perdana hanya dimonopoli oleh Mentari dan Simpati. Mau tahu berapa harga SIM card saat itu? Bisa jutaan rupiah!

Namun begitu banyak operator lain yg main disana. Akibat persaingan usaha, maka harga kartu perdana pun merosot secara drastis

Yang dulunya harga kartu perdana bisa jutaan rupiah, sekarang kita bisa beli seharga ongkos parkir saja.

Inilah benefit yg nyata2 dirasakan konsumen akibat persaingan usaha yg sehat. Konsumen jadi raja yg berhak memilih harga yg paling murah

Bukan ranahnya konsumen memikirkan nasib produsen. Produsen silakan berlomba lakukan efisiensi atau terima konsekwensi ditinggal konsumen

Nah! Inilah yg kami kritik dari kebijakan pemerintah terkait BBM sekarang. Jadi bukan pencabutan subsidinya.

Sebab apalah artinya cap subsidi jika kocek yg harus dikeluarkan rakyat tetap lebih banyak akibat inefisiensi di tubuh pertamina?

Kritik kami lebih fokus pada keengganan pertamina bersaing secara sehat dgn SPBU lain. Dan proteksi pemerintah pada inefisiensi pertamina

Akibatnya, harga BBM yg ditetapkan sekarang ini bukanlah harga pasar tapi "harga pertamina". Ini sangat merugikan rakyat!

Jika saja pemerintah membebaskan persaingan sehat di kelas premium ini, maka ceritanya akan jauh berbeda

Ingat, saat kartu perdana harganya jutaan dulu operator punya seribu satu alasan yg terlihat masuk akal. Begitu juga dgn pertamina saat ini

Namun begitu persaingan menjadi sengit, toh operator seluler itu bisa menurunkan harga kartu perdananya. Coba jika tidak ada persaingan?

Jadi kebijakan pemerintah memproteksi pertamina dgn menghalang2i persaingan sehat dgn SPBU lain adalah kebijakan yg TIDAK PRO RAKYAT

Jika penerintah memang benar2 pro rakyat, maka tidak akan ada peraturan batas bawah utk harga premium 





Jika pemerintah memang benar2 pro rakyat maka biarkanlah rakyat jadi raja. Biarkan semua SPBU berlomba2 memberi harga termurah pd rakyat

Tapi tahukah alasan dibalik kebijakan yg melindungi inefisiensi di pertamina itu? Sederhana, karena BUMN adalah sapi perah parpol

Jadi ada lingkaran setan: Penguasa kasih proteksi ke pertamina >> pertamina ucapkan terimakasih pada penguasa >> rakyat yg harus membayar

Sebagai konsumen, bukan ranah rakyat untuk memikirkan nasib pertamina. Pertamina adalah BUMN, yg mereka pikirkan hanyalah profit.

Concern rakyat sebagai konsumen yg cerdas harusnya adalah mendapatkan harga yg semurah-murahnya. Bukan subsidi atau tidak.

Dan jika Pertamina mengaku sudah efisien, lantas mengapa takut bersaing?


Sekian ngomel2 menjelang makan siang. Semoga mencerdaskan. Terimakasih.





Klik dan Follow @PartaiSocmed














11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar