Selasa, 05 Mei 2015

@anggiedwidowati : PEMBANGUNAN TANPA JIWA



@ anggiedwidowati PEMBANGUNAN TANPA JIWA, hem apa yaa...

Sepulang belanja di sebuah supermarket besar, aku naik ojek, alasan klasik, biar cepet tanpa macet tanpa ribet.

Namanya juga mantan wartawan, udah jelas hobinya nanya-nanya. Obrolan pun terjadilan antara aku dan tukang ojek.

Aku mengagumi deretan perumahan super mewah dikawasan pinggiran Jakarta dimana super market itu ada.

Selain deretan rumah mewah, di situ juga ada mall besar, rumah sakit internasional, perkantoran elit dan sekolahan mahal.

Ckckck, luar biasa indah kawasan itu. Konon rumah dan apartemen di situ mahal pol. Harga diatas 1 M semua.

"Keluarga saya dulu pemilik tanah di sini, Mbak, sekarang sudah pindah semua," kata tukang ojek itu. "Masak sih bang," pancingku.

"Iyaa, itu yg dibikin apartemen itu milik engkong saya, dulu dibeli semeter sepuluh ribu," tambahnya. "Hah, sepuluh ribu?"

"Dua puluh tahun yang lalu lah Mbak, jalan ini juga belum ada," katanya.

"Sekarang abang tinggal dimana?" tanyaku penasaran. "Ngontrak mbak, semua tanah sudah dijual," jawabnya.

"Sehari ngojek dapat berapa?" tanyaku lagi. "Ya enggak mesti, tiga puluh sampai 50 ribuanlah, buat makan aja."

Itu potret jomplang yang aku temui, kebun dan sawah dibeli murah untuk kemudian dijual mahal, apakah semua sudah selesai? Belum.

Semua fasilitas mewah di situ memang menjadi gaya para orang kaya yg sukses. Lingkungan dan fasilitas yg dijanjikan menrik hati mrk.

Orang2 sekitar yang dulunya pemilik tanah di lokasi itu, bekerja sebagai tenaga2 kasar atau utk mengerjakan pekerjaan kotor.

Sebagian menjadi satpam, tukang sapu, tukang rumput, ojek, tukang bersihin got, dan tukang cuci baju atau pembantu.

Masalah selalu bermunculan, ketika taman2 yg mereka buat menjadi tongkrongan cabe2an dan malam menjadi tempat mangkal, prostitusi.

Di sekitar perumahan mewah itu, kampung di sekitarnya kumuh dan padat. Hidup berdesakan dan miskin.

Sekolah-sekolah mewah, tiap bubaran sekolah membuat macet, karena satu anak satu mobil. Rata-rata mobilnya mobil mewah.

Di sekitar situ banyak sekolahan negeri atau sekolah swasta miskin, yg dari bentuk gedung sama fasilitas jauh berbeda.

Bukankah ini menanamkan kesenjangan di kepala anak2 otu smenjak kecil?

Kemewahan berlebihan di depan kemiskinan adalah pemicu kejahatan. Bahkan kejahatan yang sederhana.

Di pinggiran jalan kompleks mewah itu menjadi tempat pembuangan sampah liar. Pasti bukan warga perumahan yg membuang krn utk mrk dikelola.

Tentu saja oleh penduduk sekitar, yg setiap hari bukan hanya melihat kesombongan bangunan itu tapi jg kesombongan penghuninya.

Ini yang aku maksudkan pembangunan tanpa jiwa. Pemeringah harusnya memikirkan hal ini. @Tirta_ka

Semewah apa yg dikejar, kehidupan macam apa diingini, mbok ya lebih baik hindari kesenjangan yg terlalu dalam

Persoalan sosial tak akan pernah berhenti bila masalah kesenjangan ini tidak pernah diperhatikan. Pembangunan tanpa jiwa



Klik dan Follow       
11

Tidak ada komentar:

Posting Komentar