Sabtu, 25 April 2015

@PartaiSocmed :Kisah Asmara MAHARATU SWARADIPTA PRAMESWARI dan BHRE GUNAWIJAYA



Kisah Asmara MAHARATU SWARADIPTA PRAMESWARI dan BHRE GUNAWIJAYA



Disclaimer: Ini adalah novel picisan, hanyalah khayalan belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat maka itu hanyalah kebetulan belaka
Alkisah bbrp ratus tahun yg lalu di negara bernama Nuswantara berkuasalah seorang ratu cantik jelita bernama Maharatu Swaradipta Prameswari
Sang ratu memiliki suami dari tanah sabrang bernama Tunggadewa Kamanjaya. Sbg suami ratu beliau dipandang sebagai orang yg berkuasa juga
Namun begitu, dibalik harmonisnya hubungan suami istri dan kerjasama dalam mengatur negara, ternyata ada ganjalan spt duri dalam daging
Semua ini berawal dr hadirnya seorang hulu balang baru istana bernama Bhre Gunawijaya, yg ditugaskan menjd pengawal pribadi bagi sang Ratu
Bhre Gunawijaya adlh anak muda yg tampan dan santun, dia juga mudah akrab dgn siapapun. Tak heran jika sang ratu menaruh perhatian padanya
Sesungguhnya Ratu Maharatu Swaradipta Prameswari dikenal sebagai pribadi yg sulit. Mungkin ini dampak dari pengalaman hidupnya yg keras
Maharatu Swaradipta Prameswari dulunya adalah puteri dari Prabu Karnawisesa, pendiri dari kerajaan Nuswantara
Namun dlm pergolakan perebutan kekuasaan yg berdarah, akhirnya Prabu Karnawisesa diturunkan secara paksa dari singgasananya oleh Sriharta
Akibat hidup nelangsa, akhirnya Prabu Karnawisesa meninggal dunia. Dan putera putri sang Prabu harus hidup menderita sebagai rakyat jelata
Begitu pula yg dialami oleh Maharatu Swaradipta Prameswari. Sepeninggal ayahandanya hidupnya selalu dipersulit oleh penguasa baru
Dgn latar belakang masa lalu spt itu wajarlah akhirnya Maharatu Swaradipta Prameswari menjelma menjadi wanita yg keras, kaku dan pendendam
Tak ada yg pernah membayangkan Maharatu Swaradipta Prameswari suatu saat kelak dapat kembali merebut tahta kerajaan yg menjadi haknya
Tak ada yg pernah membayangkan Maharatu Swaradipta Prameswari suatu saat kelak dapat kembali merebut tahta kerajaan yg menjadi haknya
Namun para Dewa di kahyangan sungguh adil. Dgn jalan yg berliku akhirnya Maharatu Swaradipta Prameswari bisa kembali merebut tahta kerajaan
Kembali ke masa kekuasaan Maharatu Swaradipta Prameswari. Kehadiran Bhre Gunawijaya di istana ternyata memberi warna dlm hidup sang ratu
Sikap Bhre Gunawijaya sbg orang yg santun dan enak diajak bicara rupanya mengisi sesuatu yg tdk mampu diberikan oleh Tunggadewa Kamanjaya
"Tresno jalaran soko kulino", kehadiran Bhre Gunawijaya akhirnya mjd kebutuhan bg sang ratu. Hanya kpdnyalah sang ratu bisa cerita segalanya
Bhre Gunawijaya yg pandai menempatkan diri itu cukup pintar untuk memahami bahwa masa depannya akan cerah dgn bantuan sang ratu
Maka cintapun tak bertepuk sebelah tangan, prbedaan kasta dan usia tak cukup jadi penghalang. Asmara merekah di istana kerajaan Nuswantara
Namun begitu, asmara diantara keduanya bukanlah "cinta eros" yg penuh nafsu. Tetapi lebih pada kenyamanan hati untuk saling berbagi cerita
Nyalain sesuatu dulu...
Hari-hari indah rupanya cepat berlalu. Belum puas rasanya mereguk nikmatnya asmara. Tak dinyana, istana Nuswantara kembali gonjang-ganjing
Kali ini gara2 Sri Batara Yuyukangkang yg bertekad hendak merebut tahta kerajaan Nuswantara dari tangan Maharatu Swaradipta Prameswari
Sang Maharatu Swaradipta Prameswari yg ingin bertahta seribu tahun di istana sontak menjadi uring2an
Sang ratu merasa dikhianati oleh Sri Batara Yuyukangkang yg selama ini dipercayanya. Dia akan melawan hingga titik darah penghabisan!
Namun ternyata Sri Batara Yuyukangkang adalah prajurit yg sakti mandraguna. Dan ketika itu dia didukung oleh rakyat kerajaan Nuswantara
Maka, dalam suatu adu kesaktian yg singkat akhirnya Maharatu Swaradipta Prameswari dikalahkan oleh Sri Batara Yuyukangkang dengan mudahnya
Akhirnya sang ratu dipaksa turun tahta dan terusir dari istana. Berbeda dgn ayahandanya, kekuasaan sang ratu hanya seumur jagung saja
Saking sakit hatinya, saat meninggalkan istana kerajaan Nuswantara, Maharatu Swaradipta Prameswari bersumpah di tangga istana
Sumpah sang ratu yg terkenal itu: "Aku takkan sudi menginjakkan kakiku di istana ini selama Sri Batara Yuyukangkang masih berkuasa!"
Kembali menjadi rakyat biasa rupanya tidak membuat hubungan dekat dengan Bhre Gunawijaya berakhir. Justru keduanya makin saling membutuhkan
Sungguh sedih, ambisi Maharatu Swaradipta Prameswari untuk kembali merebut tahta kerajaan tak pernah kesampaian
Berulangkali telah terjadi adu kesaktian diantara keduanya. Namun Sri Batara Yuyukangkang terlalu sakti bagi Maharatu Swaradipta Prameswari
Akhirnya faktor umur pulalah yg menamatkan ambisi Maharatu Swaradipta Prameswari untuk kembali menduduki singgasana kerajaan Nuswantara
Meski begitu, napsu berkuasa Maharatu Swaradipta Prameswari tak pernah padam. Maka dia pun mengadakan sayembara bagi seluruh negeri
Sayembaranya: Barang siapa yg mampu menaruh mahkota kerajaan di kepala Maharatu Swaradipta Prameswari, maka dia akan diangkat jadi raja
Singkat cerita, adalah seorang pemuda kurus dari desa bernama Jakasembung Karma Wijaya memberanikan diri ikut sayembara tersebut
Dan sungguh luar biasa! Ternyata pemuda kurus inilah yg akhirnya mengalahkan semua musuh dan berhasil memenangkan sayembara
Pemuda kurus dari desa inilah yg akhirnya berhasil menaruh mahkota kerajaan Nuswantara di kepala Maharatu Swaradipta Prameswari
Sesuai janji maka Jakasembung Karma Wijaya akhirnya diangkat jadi raja kerajaan Nuswantara. Rakyat pun bahagia menyambutnya
Namun semua lupa, meski sudah menjadi raja Jakasembung Karma Wijaya tidak punya mahkota! Sebab mahkota masih di kepala sang ratu
Akibatnya Jakasembung adalah raja tanpa mahkota. Penguasa negeri sesungguhnya adalah si pemakai mahkota, Maharatu Swaradipta Prameswari
Meski tanpa mahkota Jakasembung Karma Wijaya cukup bahagia. Sebagai orang desa dia merasa sangat beruntung bisa menjadi raja
Maka dalam pemerintahannya keputusan akhir tetap berada ditangan Maharatu Swaradipta Prameswari, termasuk kputusan mengangkat pejabat negara
Kisah asmara yg terus berlanjut antara Maharatu Swaradipta Prameswari dan Bhre Gunawijaya akhirnya mengharu biru negeri
Keinginan Maharatu Swaradipta Prameswari agar Bhre Gunawijaya diangkat sebagai petinggi kerajaan Nuswantara tidak boleh ditawar-tawar!
Berulangkali Maharatu Swaradipta Prameswari mengingatkan pada raja bahwa mahkota ada di kepalanya, dan raja wajib patuh padanya
Bahkan ketika telik sandi kerajaan menemukan dia punya dosa masa lalu dan ingin menangkapnya, Maharatu Swaradipta Prameswari marah besar!
Lalu dimintalah juru adil negara bernama Sarpakuciwa agar membuat keputusan yang adil bagi Bhre Gunawijaya
Sarpakuciwa sejak lama terenal sbg juru adil yg culas, namun jabatannya sebagai juru adil membuat keputusannya harus dipatuhi semua pihak
Maka seperti sudah diduga banyak pihak akhirnya Sarpakuciwa membuat keputusan yg sangat adil bagi Bhre Wasangka
Namun agar tak menimbulkan kegaduhan raja Jakasembung Karma Wijaya memutuskan utk membatalkan Bhre Wasangka sebagai pejabat kerajaan
Maka murkalah Maharatu Swaradipta Prameswari atas keputusan raja yg dianggap tidak adil pada Bhre Gunawijaya itu
Dan dalam sebuah rapat raksasa, Maharatu Swaradipta Prameswari secara keras mengingatkan raja bahwa mahkota kerajaan masih ada di kepalanya
Wahai raja Jakasembung Karma Wijaya! Engkau menjadi raja semata karena aku! Dan ingatlah mahkota ada di kepalaku. Maka patuhlah!
Maka patuhlah raja Jakasembung Karma Wijaya kepada Maharatu Swaradipta Prameswari. Lalu diangkatlah Bhre Gunawijaya jadi pejabat keraja
Bhre Gunawijaya pun diangkat menjadi wakil dari Burisrawa Hamangkurat. Dan tak lama lagi akan menggantikan Burisrawa Hamangkurat
Keputusan ini membuat Maharatu Swaradipta Prameswari puas. Dan terbutkti kekuatan cinta mampu mengalahkan segalanya
Akhir dari kisah cinta dua anak manusia ini adalah akhir yg bahagia. Berdua mereka menaklukkan dunia..
Sekian roman picisan malam ini, semoga menghibur. Terimakasih.







Klik dan Follow       

























11

1 komentar: